Posts Tagged ‘Diary’

Beasiswa Yoneyama (utk program S2)

Seperti biasanya, hari ini ketika sedang bersiap berangkat ke kampus saya beres-beres kamar merapikan baju dan kaos yang telah kering setelah dijemur selama sekitar 4 hari. Menjemur cucian selama musim dingin memang butuh waktu yang cukup lama, karena cuaca di luar sangat dingin dan udaranya kering. Apalagi di daerah Kiryu ini, angin di luar bertiup sangat kencang dan dingin. Jadi, saya lebih cenderung menjemur pakaian di dalam ruangan saja.

Nah, ketika sedang asik melipat baju dan merapikan pakaian, tiba-tiba terdengar suara dering dari telepon genggam yang saya letakkan di atas meja komputer. Mulanya saya pikir itu telepon dari petugas Pos yang tiap pagi saya hubungi untuk mengangkut barang dagangan (online shop) saya. Tapi, ternyata telepon itu dari Fukuda-san, pegawai kampus yang bertugas untuk mengurusi keperluan mahasiswa asing di Universitas Gunma.

Satu kalimat yang membuat saya tersentak adalah, “Fahmi-san, Yoneyama Shougakukin goukakushimashita! Omedetou gozaimasu!” yang pada intinya beliau ingin menyampaikan berita bahwa saya lulus program beasiswa dari Yoneyama Memorial Foundation untuk melanjutkan studi ke jenjang S2.

Continue reading

Dari kue donat, nasi uduk sampai ke online shopping

Alhamdulillah, saya ini termasuk golongan orang yg terlahir dari keluarga sederhana yg pas-pasan. Ayah bekerja sebagai PNS,  ibu mengurus keperluan sehari-hari di rumah. Kami tinggal di kampung Cilandak, daerah Jakarta Selatan, belakang Cilandak Town Square.

Cerita bermula ketika saya duduk di bangku SMA kelas dua. Di awal pekan tahun ajaran baru, serombongan kakak kelas dari Universitas Indonesia datang memberikan presentasi tentang jurusan-jurusan favorit yg banyak diminati peserta ujian SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).

Karena dari dulu punya cita-cita jadi dokter, ada keinginan yg kuat utk nyoba masuk Fakultas Kedokteran UI. Lalu, setelah FKUI, kepingin nyoba masuk Fakultas Teknik Elektro. Tapi, ada satu hal yg membuat saya bimbang dan sedikit ragu. Waktu itu beredar gosip kalau mau masuk FKUI mesti siapin uang minimal 50 juta rupiah. Kalau mau masuk Fakultas Teknik mesti punya 25 juta rupiah!

“Degg…”

Tiba-tiba saya saya terdiam kaget. “Kok mahal banget ya…?” Mana mungkin punya uang sebanyak itu.

Sampai di rumah, saya coba komunikasikan dengan orang tua. Mencoba utk curhat ke ibu. Kalau memang mesti keluar minimal 25 juta, terpaksa pinjam uang sana-sini. Semalaman saya berpikir panjang nggak bisa tidur. Berpikir bagaimana caranya supaya nggak ngerepotin orang tua lebih jauh. Nggak mau menambah beban orang tua lebih berat lagi.

Alhasil, keesokan harinya saya mencoba bangun pagi lebih awal dari biasa. Waktu itu pergi ke sekolah naik angkot D02 warna putih jurusan Lebak Bulus-Pondok Labu (hmm… jadi kangen naik angkot nih… hehe).

Sesampainya di persimpangan Pondok Labu, saya mengalihkan target utama ke “Pasar Pagi”. Dulu sewaktu acara ekskul sekolah, teman-teman sie konsumsi sering beli kue, gorengan atau cemilan di “Pasar Pagi”. Harganya murah dan jenis kuenya macem-macem.

Pagi itu saya beli donat, kue apem, dan beberapa gorengan yg isinya kacang ijo (nama kue-nya apa ya..? saya lupa). Modal utk belanja saya habiskan sekitar 5.000rupiah. Lalu, sesampainya di kelas, saya coba tawarkan donat dan kuenya ke teman. Awalnya agak malu sih, rasanya sungkan kalo mesti nawarin kue dagangan ke teman. Apalagi dengan tujuan bisnis… hehe

Sejak saat itu, saya pun resmi jadi penjual kue di kelas. Ya, lumayan sih… modal 5 ribu, dapat untung sekitar 2-3 ribu. Nggak banyak, tapi yg penting bisa ditabung.
Continue reading

%d bloggers like this: